Saturday, January 24, 2009

Imlek dan Barongsai di Muara I Teluk Naga

Pelita Hati buat acara lagi!

Akhir januari ini, masyarakat Tionghoa merayakan tahun barunya. Tepatnya hari Senin tanggal 26 Januari 2009. Hari raya ini emang punya gaungnya tersendiri. Pinggir jalan dan pertokoan di beberapa kawasan di Jakarta telah dibalut dengan nunasa merah dan kuning. Tulisan dan bahasa mandarin pun tersebar di mana-mana. Hal semacam itu terlihat di daerah Glodok, khususnya derah Petak Sembilan dan kawasan pecinan lainnya.

Pelita Hati tidak ketinggalan pula ikut memeriahkan hari raya tahunan ini. Lokasi yang digunakan untuk perayaan adalah, apa lagi kalo bukan Teluk Naga. Daerah yang merupakan basis terkuat dari Pelita Hati (wuiih..mirip parpol aja!). Bukan itu maksudnya :), kawasan ini dipilih karena Teluk Naga memiliki landasan historis yang berkenaan dengan pemukiman orang-orang tionghoa sejak jaman kompeni dahulu.

Acaranya berlangsung pada hari Sabtu, 24 Januari 2009 (H-2) dan bertempat di SDN Muara I. Sejak pagi, teman-teman relawan udah pada sibuk mempersiapkan barang-barang kebutuhan yang akan digunakan di lokasi acara. Ada Sisca dan Novi, ada Mas Aik, dan ada Eko dari Wacana Ciledug. Mereka menemani Bu Suzzan berangkat lebih awal.

Sekitar jam 10:00 WIB, rombongan Bu Suzzan tiba di SDN Muara I. Acara telah dimulai. Bu Monica beserta rombongan (yaitu Rangga, Jofy, Mirela, Hans dan kelompok seni tari barongsai dari Baret’s Lion Dance Club dikoordinasi oleh Kak Maya) telah memulai lebih dulu. Acara dibuka dengan belajar membuat pagoda dari kertas (origami) dan kemudian diteruskan dengan lomba membuat pagoda paling tinggi dari hasil kertas lipatan tersebut.

Suasana menjadi riuh ketika acara lomba di mulai. Masing-masing kelompok berusaha menjadi kelompok pemenang. Pagoda kertas kadang oleng dan kemudian jatuh berantakan. Anak-anak tak putus semangat untuk kembali mencoba. Mereka kembali menata dan sebagiannya menahan di bagian tengah bangunan rapuh tersebut. Kondisi itu berlangsung terus walau para pendamping meminta mereka untuk tetap tenang.





Membangun menara Pagoda setinggi-tingginya Dan inilah pemenanangnya



Acara lomba pun bubar ketika tim barongsai siap untuk memulai pertunjukan. Anak-anak kembali ribut dan berlarian ke lapangan. Mereka seakan tak sabar untuk menikmati salah satu bentuk tarian dari cina ini. Dari ujung lapangan, suara gaduh namun nyaring menyerap suara-suara bising lainnya. Suara tersebut memikat perhatian orang-orang yang berada di sana. Masyarakat dan anak-anak mulai berkumpul di tengah lapangan, membentuk lingkaran. Rasa penasaran mereka mendorong mereka untuk melihat lebih dekat asal suara-suara gaduh itu.

Suara gaduh itu berasal dari tabuhan drum yang menderu dan dentingan simbal yang beradu. Drum besar yang menyerupai drum khas Jepang (Taiko) itu dipukul bertalu-talu oleh satu orang pemukul drum dan ditemani oleh dua orang yang memegang simbal (China Clash Cymbals). Di tengah lapangan, singa barong mulai meliuk-liuk dengan gesitnya. Para penonton berdecak kagum dan bertepuk tangan sesaat setelah sang singa usai mempertunjukkan atraksi-aktraksinya yang memukau. Anak-anak pun ramai mengacung-acungkan ang pao yang berada di tangan berharap agar sang singa mendekat dan mengambilnya. Ketika matahari mulai condong ke barat, pertunjukan perlahan usai dan penonton pun beranjak meninggalkan lapangan.

Bagi Sembako

Ketika pertunjukan barongsai baru saja setengah jam berjalan, Ibu Monica dan Ibu Suzzana mulai sibuk dengan aksi gerilyanya. Ditemani Pak Ata, Pak Masyrik, dan tiga anggota pramuka, keduanya memasuki perkampungan dan membawa 11 bungkusan sembako untuk dibagikan para keluarga lansia di daerah Muara. Para lansia ini merupakan warga keturunan yang telah menempati daerah pemukiman tersebut cukup lama. Mereka adalah orang-orang yang kini tidak memiliki apa-apa dan siapa-siapa lagi bahkan ada diantara mereka yang hidup sendiri. Bungkusan sembako ini diberikan pada 10 KK secara cuma-cuam tanpa ada hambatan yang menghalangi.

Selain sembako, Pelita Hati juga memberikan angpao pada enam murid SD Muara 1. Mereka ini adalah anak-anak asuh PH yang notabene keturunan etnis Tionghoa. Pemberian angpao pun berlangsung sederhana. Ibu Rika yang memberikan angpao tersebut kepada mereka secara langsung tanpa upacara dan bakar dupa (hehehe).

Hari makin sore, kawan-kawan relawan pun mulai berbenah untuk ‘mudhik’ ke Jakarta kembali.

Hari yang ramai….!



Tabik!!!


Sang Timur




"ha..ha...ha..."



"Ma, atuuuut...!"


Persiapan


Sang Penabuh


Sang Singa pun menari


Murid SD Muara I bersama Kelompok Seni Tari Barongsai


Sisca, Novi, Mirela, dan Bu Monic


Sisca (lagi), Novi (lagi), sang Singa, Bu Suzzan, Bu Monic (lagi)


Para Relawannya mejeng


Penjelajan ke dalam kampung



Gerilya pemberian sembako



Bu Suzzan yang penuh kasih


Pak Masrik dan Pak Ata ikut gerilya



Bagian dalam rumah yang kami kunjungi



Ibu Rika bagi'in Angpao



Semuanya gembira karena Angpao udah ditangan



1 komentar:

samuel said...

MAJU TERUS KKSPH!! :)